Situs sejarah Watu Dukun ‘Pager ukir kecamatan Sampung, PONOROGO

KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT, PONOROGO-Semakin terkuatnya sejumlah situs yang ada di wilayah Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo membuat para peneliti dan pemerhati budaya semakin tertuju ke berbagai situs yang ada di perbatasan Kabupaten Ponorogo dengan Kabupaten Wonogiri.

Salahsatunya ditemukannya situs batu tulis (batu prasasti) yang ada di Desa Pagerukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo.

Disinyalir, situs pagerukir yang dilengkapi berbagai penemuan benda situs lainnya seperti balok altar (meja) dan 4 batu kursi, batu salju, sendang watu dukun, batu berudak, batu suci, serta batu menyerupai ranjang itu, berhubungan langsung dengan lahirnya kerajaan Wengker yang dipimpin Prabu Kelono Sewandono.

Apalagi, di lokasi itu juga dijumpai, batu prasasti dibongkahan batu jenis Karst bertuliskan dari huruf Kawi yang pada baris Pertama terbaca WA-BA-CA-NA-WA, dibaris kedua yang atas berbunyi NA-LI, dibaris kedua yang bawah berbunyi WA-NYA/BA-YA, dan di baris terakhir atau ketiga adalah GI-PU-JA-PU-JA-BU-MA (MI).

Kondisi itu, kata Juru Kunci Situs Pagerukir sebagai bentuk peralihan kerajaan dari Keraton Yogyakarta menuju kerajaan Wengker. Alasannya, batu yang terpahat itu menunjukkan arti situs pagerukir sebagai lokasi ritual persembahan dan pemujaan sebagai manusia agar mendapatkan keberkahan.

Diduga Situs Pager Ukir merupakan tempat ritual di masa lampau yang sangat penting dan mempunyai sejarah leluhur di Bumi Jawa Dwipa. Bahkan kalau diamati bentuk aksara atau tulisan yang tertera di pahatan batu tersebut digunakan pada sekitar kurang lebih 2.500 tahun yang lalu, sehingga ada kemungkinan situs pagerukir sudah ada sejak masa jaman pra sejarah akhir.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa arti tulisan tersebut adalah Wangsite Batoro Cacahe Songo (Sabda Tuhan ada sembilan) yakni delapan penjuru mata angin dan satunya adalah bumi). “Namun semua kebenarannya masih menunggu hasil penelitian selanjutnya, karena situs ini masih akan terus diteliti,” www.kimbiting.com

Mengulas keberadaan Situs Pagerukir yang diambil dari cerita rakyat, sang Raha Besar Kahuripan Medang Airlangga pernah berada  di Situs Pagerukir.

Semasa pengembaraannya bersama abdi kinasih Narotama. Keduanya berguru ke seorang empu yang sangat tersohor yaitu Empu Bharada. Di Situs Pager Ukir itulah Airlangga digembleng ilmu jaya wijaya dan ilmu kanuragan. Saat Airlangga belum menjadi raja. Hingga Air Langga menjadi raja, dengan para bala tentara kerajaan dan Airlangga dan Narotama berganti nama.

Airlangga berganti nama menjadi Parabu Kelono Sewandono sedangkan Narotama berganti nama menjadi Pujanggo Anom. Kedua tokoh nama Kelono Sewandono dan Pujonggo Anom merupakan tokoh yang digambarkan dalam kesenian reog Ponorogo, yaitu gambaran seorang Satriya yang sakti mandara guna dan berperilaku baik.

Setiap malam Jumat Legi dan Seloso Kliwon tempat (Pagerukir) sebagai tempat ritual dari berbagai kalangan baik pejabat, pengusaha, dan orang umum berdoa agar hajatnya terkabulkan karena tempat ini merupakan tempat penggemblengan seorang raja besar Airlangga. Konon, sebelum digembleng disucikan dulu di Sendang Jagad yang berada di depan batu prasasti yang dikenal dengan Sendang Watu Dukun itu,”

Mengungkapkan jika hal ini ditelaah lebih lanjut, Airlangga kemungkinan besar pernah ikut mewarnai sejarah masa lalu Ponorogo. Buktinya adanya peninggalan sejarah yang bercorak miniatur lumbung dari batu yang bertanda sangka bersayap yang merupakan ciri khas kerajaan Airlangga yang berada di beberapa tempat yang berada di wilayah Ponorogo. www.kimbiting.com

“Dalam cerita rakyat jawa menyebutkan Airlangga pernah berucap, kelak jika anak turunku yang hendak menjadi raja harus mensucikan diri dulu di sendang Jagad (sumber mata air) yang terletak di kaki Gunung Suci yang berada di depan Situs Pagerukir itu,” ungkapnya.

“Situs Pagerukir ini sangat bisa dijadikan bukti jejak sejarah penting Ponorogo. Kerajaan besar lainnya di Jawa Timur danmasih banyak sejarah yang belum terkuak di sekitar situs Pagerukir, sehingga analisa dan penelitian masih harus diperlukan untuk melesatrikan peninggalan sejarah Ponorogo,”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *